MANUSIA TAMAN LUMINTANG
Taman Lumintang, taman kecil di Kota Denpasar.
Seharusnya saya datang di hari biasa. Hari Minggu bukanlah hari yang tepat, apalagi di sore hari. Terlampau banyak balon, hiruh pikuk anak-anak berlarian dan orang dewasa yang bergerombol hampir di setiap bagian taman. Padahal suasana yang paling kuinginkan adalah tak banyak orang, tak banyak kebisingan suara manusia.
x
Ah, itu dia. Saya mendeteksi bebrapa wajah. Begitu familiar sehingga saya merasa seperti di rumah. Tentu saja saya tak mengenali mereka secara pribadi. Demikianpun dengan nama mereka. Sempat bertanya sendiri, mungkinkah saya pernah bertemu mereka di bagian mana di Pulau Bali? Mereka adalah wajah-wajah asing yang familiar. Orang kami, dari Nusa Tenggara Timur. Perasaan nyaman menyusupiku. Lantas saya berubah jadi senang karena telah datang di Minggu sore ini.
Sebelum menuju tempat favoritku, saatnya melakukan hobi intelijenku. Perlahan-lahan kutelusuri lintasan joging sisi luar taman. Kupindai kelompok demi kelompok lalu wajah-wajah di dalamnya. Otakku segera mengkategorikan orang-orang ini berdasarkan jenis rambut, tulang pipi, bentuk mata, warna kulit, postur, aksesoris dan pilihan pakaian.
Orang kami sangat mudah dikenali ketika dijejali dengan segala kategori di atas. Lantas orang Jawa dan daerah lain yang mayoritas Islam mempermudahkanku dengan pilihan pakaiannya, hijab/jilbab. Walaupun cuma satu orang dalam kelompok, proses identifikasi berjalan lebih cepat.
Ada juga kelompok kategori lain yang cukup unik. Orang tua dua puluhan dan awal tiga puluhan. Mereka di taman bersama anak atau anak-anak mereka, keluarga kecil yang sedang menikmati waktu senja di taman. Kategori ini selain berkonsentrasi di tempat bermain anak, juga menyebar di antara kelompok-kelompok besar.
Sejauh pengamatanku dari mulai masuk taman sampai ke bangku favoritku, kelompok-kelompok orang yang terdeteksi terdiri dari tiga kelompok besar, orang kami, orang Jawa dan orang Bali.
Menjelang matahari terbenam lintasan joging memadat. Ada yang jalan santai, ada yang jalan cepat, sampai yang lari dengan kekuatan darah muda. Menarik sekali bagiku bahwa orang Bali mendominasi aktivitas fisik ini, sementara orang Jawa dan orang kami bersantai dan bersenda gurau di dalam taman.
Kala gelap menjelang, tukang balon menyalakan kelap-kelip lampu di jualan mereka. Hiruk pikuk anak-anak masih terlihat lebih sebagai siluet gentayangan. Warna menjadi semakin sulit dikenali, demikianpun dengan wajah orang yang terus memburam.
Dari sisi taman favoritku, kulihat Indonesia yang beraneka ragam. Kuat tapi rapuh. Semuanya disatukan oleh keperluan yang sama, ruang untuk berkumpul. Selebihnya kepentingan kelompok mendominasi. Interaksi keluar cuma untuk memenuhi kebutuhan kopi, kebutuhan jajan, atau balon. Lalu mereka kembali ke kelompok. Sangat minim kontak antar kelompok.
Bahkan anak-anak mereka diarahkan oleh beberapa orang tua seperti ini;
“Dek, dek, dek, udah,udah,udah, sini, sini, sini.”
Padahal si Dedek mau main sama anak lain.
Heran aku jadinya, bawa anak ke taman yang dipenuhi anak-anak, eh mainnya dimonopoli orang tua.
Lampu taman sudah seratus persen terang, sementara bangku tempat saya duduk semakin lama semakin kelam oleh malam dan rimbun pepohonan, Sambil merampungkan kesan-kesan terakhir Taman Lumintang, suara seseorang mengagetkanku.
“Om, mau coba Pia rasa Coklat, Rasa Kacang Ijo”
Eh, ada yang jualan. Perlu bagiku menggeser gawai ketik-mengetikku ke samping kanan biar silaunya menghadap sandaran bangku.
Penjualnya masih anak-anak. Logatnya khas
“Berapa itu dek”
“Sepuluh ribu. Yang ini rasa Coklat, Rasa Kacang Ijo, dan Rasa Nanas” jarinya menunjuk setiap rasa di tiap bungkus pia.
“Saat ini rasa Coklat dan Rasa Kacang Ijo best seller”
Anjir, ini pia anjir, sudah seperti sales pompa air anak ini.
Saya beli satu yang rasa Kacang Ijo. Saat sales kecil ini berlalu saya membatin. Busyet, kan tujuan awalku ke sini untuk menenangkan pikiran karena pusing di kos memikirkan tagihan angsuran motor yang terus mendekat. Kenapa saya beli benda best seller ini?
Walaupun demikian saya kagum pada anak kecil ini. Dengan pasar yang besar seperti di Denpasar, saya yakin pengahasilan adek ini lebih mentereng dari wiraswasta ojolku. Besok-besok, adik sales ini bisa jadi Bli kaya raya. Apa saya ganti profesi jadi penjual pie saja ya?

Comments
Post a Comment