UANG LINTING DI MADRASAH



 Kalau saja kuikuti permintaan penumpangku apa adanya, pasti telah kutabrak selangkang pemuda di depanku. Masih terbayang wajahnya memucat melihat sepeda motorku tidak lekas melambat. Memang saya sengaja. Barulah nanti semeter di depannya saya berbelok dan mengerem. 


Si ibu dengan cepat meluncur dari atas motor,  sedikitpun tidak mengetahui permainan konyol yang baru saja terjadi. Toh saat mendekati tujuan akhir, si ibu sibuk berbagi cakap dengan seorang pria yang juga duduk di sekitar tempat parkir. Memang selama perjalanan dia duduk menyamping, duduk perempuan. Jadi mudah saja turun dari atas motor tanpa banyak usaha.


Namanya N****. Tadinya kukira siswa yang mau ke sekolah. Tapi waktu di lokasi penjemputan orangnya tidak remaja lagi. Dia terlihat siap dengan satu kantong plastik besar dari balik pagar rumahnya. Lagian, ini sudah jam delapan pagi. Siswa Madrasah mana yang masih belum juga di sekolah jam begini.


Dia tersentak sejenak saat keluar dari dalam kompleks rumahnya. 

“Oh motor ini” serunya. 

“Iya, saya pake motor supra” Motor bebek memang tidak nyaman untuk bawa barang bawaan yang mudah tumpah atau sobek. 


Namun kekhawatiran tidak tampak di wajahnya. Dengan santai dia menjejalkan  bungkusan plastik biru di “lengkungan sepeda motor” Selanjutnya kugeser-geser bungkusan itu sedemikian rupa agar terposisi secara kuat. Isinya makanan yang dibungkus dan perlengkapan makan dari plastik. Aroma nasi kuning dan wangi serundeng kelapa menyeruak. Makanan-makanan itu dibungkus dengan kertas coklat sementara serundeng dan makanan lainnya terkunci rapat dalam kotak plastik. Tentu saja bisa kulihat semua isi bawaan penumpangku karena kantong plastiknya biru menerawang. 


“Maaf ya bu, motornya bebek. Nanti kalau ada kesempatan baru beli yang matik”

“amin,amin jawabnya”

Dia sudah di atas motor, duduk menyamping, merapikan jilbabnya lalu memasang helm.

Kami segera berangkat.


Persimpangan pertama. Menurut peta Grab kami seharusnya mengambil jalan lurus. Beliau memintaku belok kiri saja.

“Terlalu jauh kalau lurus”

Kuikuti. Yakin sekali ibu ini bukan kali pertama melewati tempat ini. Dia sudah kuasa medan. 

Walaupun hilir mudik di kawasan ini saya tak pernah tahu ada Madrasah yang terselip di pemukiman sekitar sini.


Kami sepakat membuatnya jadi penunjuk arah. Ternyata setelah belok kiri , perintah-perintah berikutnya belok kanan melulu. Mendekati sekolah saya siap berbelok ke kiri, ke gerbang sekolah. Si ibu menginterupsi. 

“Lurus sampai mentok mas”

Ternyata ibu ini pengguna jalur samping. Orang dalam tho


Lurus sampai mentok. Mendadak saya jadi senang dengan arahan itu.

Tepat di depanku seorang pria muda, guru, duduk menantang dengan kedua paha terbuka. Sambil bersandar santai, kedua telapak tangannya saling bertangkup di atas perutnya. Dia terlihat sangat nyaman dan saya begitu tergoda untuk bermain-main.


Kutatap poster di atas kepalanya. Tanpa melambat, sepeda motorku mengarah tepat ke selangkangannya. Dia sampai harus berjinjit siap menyelamatkan diri. Tepat sebelum semuanya terjadi, saya berbelok mulus ke kiri ke arah gerbang  samping yang terbuka. Kupalsukan kegembiraanku dengan memperhatikan siswa madrasah sedang beraktifitas di lapangan tengah. Seolah-olah tidak ada sesuatu yang baru terjadi


Enak ya, kagetin orang. Lucu melihat wajah yang mendadak pucat kehilangan darah dalam sekejap. Tentu saja tak ada ekspresi geli yang kutunjukan. Kalau terlihat maka dia bisa beranggap saya sengaja. Masa berseteru pagi-pagi di Madrasah.


Si ibu tidak memperhatikan perilakuku, karena dia duduk menyamping dan sedang berbicara dengan seseorang. Dengan mulus dia turun dari motor lalu mencari ongkos dari dalam tasnya. Pria yang berbicara dengannya tadi  mengangkat kantong biru dari motorku.


Eh, uangnya digulung seperti rokok lalu dikaretin. Saya terkesima masih ada yang seperti ini. Kuperlihatkan ongkos yang harus dibayarnya. Dia menyerahkan lintingan uang tersebut tanpa membukanya. Jenis ibu-ibu yang paham harga dan pasaran. Selalu siap sedia. Satu linting untuk satu kali ojek


Tapi saya tetap harus menghitungnya.

“Oh iya, hitung dulu”

Setelang lintingan terbuka, ada lima lembar uang dua ribuan yang masih kesat. 

“Bu, ini sepuluh ribu. Saya tidak ada kembalian seribu lima ratus”


Sumpah, saya tidak ada kembalian seribu lima ratus.

“Tidak apa-apa, ambil saja”

“Terima kasih banyak bu”

Pak guru sudah tak kelihatan, si ibu buru-buru menghilang ke dalam kompleks madrasah.


Saya berbalik, mengambil jalan pulang, tapi berhenti sejenak mengambil beberapa foto. Perlu dokumentasi perjalanan ini sebagai penghias ceritaku nanti. Seorang siswi cekikikan sama teman-temannya lalu menghilang ke balik gerbang warna-warni karena ketahuan olehku sedang makan. Malu kan kalau viral


Uang linting kubuka dan kusimpan. Ongkos  Rp8000. Yang harus dibayar si ibu Rp 8500. Grab mengambil Rp500 untuk perjalanan ini. Karena tak bisa dikembalikan, rezekiku bertambah Rp.1500.


Kalau kasus seperti ini berarti penumpang sedang menggunakan layanan Grab Hemat. Ongkos tidak berkurang, sesuai regulasi tarif bawah dan tarif atas. Sungguh, ongkosku tak berkurang seperti yang dicereweti driver-driver anti tarif hemat. Tapi auch ah, banyak kepala banyak pikiran. Sesuka-sukalah orang berpikir


Tapi kalau pengertianku benar akan ketentuan baru yang kutandatangani secara virtual dua hari yang lalu, maka urusan pajak penghasilan adalah urusanku. Ongkosku belum bersih, masih perlu dipotong pajak. 




Comments

Popular posts from this blog

MANUSIA TAMAN LUMINTANG