UANG LINTING DI MADRASAH
Kalau saja kuikuti permintaan penumpangku apa adanya, pasti telah kutabrak selangkang pemuda di depanku. Masih terbayang wajahnya memucat melihat sepeda motorku tidak lekas melambat. Memang saya sengaja. Barulah nanti semeter di depannya saya berbelok dan mengerem. Si ibu dengan cepat meluncur dari atas motor, sedikitpun tidak mengetahui permainan konyol yang baru saja terjadi. Toh saat mendekati tujuan akhir, si ibu sibuk berbagi cakap dengan seorang pria yang juga duduk di sekitar tempat parkir. Memang selama perjalanan dia duduk menyamping, duduk perempuan. Jadi mudah saja turun dari atas motor tanpa banyak usaha. Namanya N****. Tadinya kukira siswa yang mau ke sekolah. Tapi waktu di lokasi penjemputan orangnya tidak remaja lagi. Dia terlihat siap dengan satu kantong plastik besar dari balik pagar rumahnya. Lagian, ini sudah jam delapan pagi. Siswa Madrasah mana yang masih belum juga di sekolah jam begini. Dia tersentak sejenak saat keluar dari dalam kompleks rumah...
Comments
Post a Comment