CHROME FLEX OS MEMBUATKU HEMAT JUTAAN RUPIAH




Sejak tiga tahun yang lalu saya berhenti menggunakan laptop DELL Inspiron Series 3000. Laptop ini, kalau tidak salah, saya beli akhir tahun 2014 atau awal tahun 2015. Sayang sekali laptot ini jadi rusak karena gonta ganti sistem operasinya antara Windows 10 dan Linux yang kerap terjadi. Alhasil setelah pilihan terakhirku jatuh pada Windows 10, laptop ini akhirnya crash. Windowsnya tak muncul-muncul walaupun berulang kali F2 dan tombol-tombol lain kupencet habis-habisan. Terakhir kali kuminta temanku mengeceknya saat dia datang berkunjung. Dia juga tak bisa atasi masalah ini. Aku menyerah dan menganggap laptopku sudah mati. Sebagai barang rusak laptop ini seharusnya kubuang. Apalagi penggantinya ternyata lebih kencang, lebih tipis, bahkan layarnya bisa dibentang hingga 180 derajat.Tapi hatiku ternyata masih dekat dengan DELL Inspiron.Sudut-sudutnya yang tegas. Perawakannya kokoh seperti berotot. Kurasa itu jadi alasanku mempertahankannya sebagai barang rusak yang berharga. Selain itu kupikir-pikir kalau nanti punya rumah sendiri, laptop ini bisa jadi kenang-kenangan yang bisa kupajang di deretan koleksi perlengkapan elektronikku, bersebelahan dengan Blackberry Z10. Laptop baruku cantik sekali. Acer Swift 3. Layarnya bisa dibuka sampai benar-benar rata. Kadang-kadang saya “pamer” kebolehannya dengan membuatnya terbentang seperti TV saat menonton film. Lalu musibah datang. Acer Swift 3 ternyata menyimpan kelemahan serius di persambungan engsel dan cangkang layar. Bilah cangkang layarnya ternyata cuma ditempel pada engselnya dengan lem. Alhasil, setelah direntang berulang-ulang, seluruh lapisan lem tak mampu menahan tarikan dan dorongan. Bilah cangkang layarpun terlepas. Jadi untuk tetap bisa menggunakannya, saya membuka bilah layarnya sedemikian rupa sampai pada sudut pandang yang nyaman untukku, lalu area persambungan badan laptop dan layar saya balut dengan isolasi.Penampakannya seperti sabuk. Untuk menjaganya tidak terjengkang, saya menyandarkan pada kardus sepatu yang ditempel pada sebilah triplex kecil. Kini Laptopku tetap bisa kugunakan seperti biasa. Cuma kali ini tidak pernah berhenti kangkang. Harus kuakui, menggunakan laptop dengan cara seperti itu sangat melelahkan. Apalagi ketika harus memindahkannya. Perlu extra hati-hati. Pada titik ini saya ingin punya laptop baru. Berhubung pendapatanku sejak corona hanya memampukanku untuk berada pada survival mode, saya berniat untuk menabung dulu hingga bisa beli laptop baru. Chromebook tampaknya cukup menarik hatiku. Harganya mulai dua jutaan, dan cocok dengan kebutuhanku. Sampai beberapa bulan yang lalu saya tetap berkeyakinan bahwa laptop dengan segenap aplikasi grafis yang hebat adalah yang aku butuhkan. Pikirku saya bisa desain apapun dengan software itu. Ternyata bukan itu. Apa yang kubutuhkan untuk semua desain itu sudah ada di smartphone. Ratusan aplikasi pengolahan gambar dan video ada di sana. Desain grafis tingkat tinggi ternyata bukan duniaku. Saya cuma terpesona, dan sekian lama saya percaya itulah duku. Ironis benar. Sampai beberapa bulan yang lalu saya tetap berkeyakinan bahwa laptop dengan segenap aplikasi grafis yang hebat adalah yang aku butuhkan. Pikirku saya bisa desain apapun dengan software itu. Ternyata bukan itu. Apa yang kubutuhkan untuk semua desain itu sudah ada di smartphone. Ratusan aplikasi pengolahan gambar dan video ada di sana. Desain grafis tingkat tinggi ternyata bukan duniaku. Saya cuma terpesona, dan sekian lama saya percaya itulah duniaku. Sayang! Yang saya butuhkan adalah sebuah smartphone yang bagus dan sebuah keyboard mechanical untuk mengetik. Mengetik di keyboard mechanical itu sangat memuaskan, tetapi ambal menatap layar kecil bukan pilihan yang tepat. Perlu layar yang lebih besar yang bisa terhubung dengan keyboard mechanichal Bluetooth dari Logitech yang kini sedang saya miliki. Saya Cuma mau mehetik saja. Fitur Plug And Play keyboard mechanicalku Cuma bisa dilakukan di perangkat yang punya colokan USB. ACER kangkangku bisa memenuhi kriteria ini, tapi sebuah laptop yang mudah berpindah tempat pasti lebih nyaman. Akupun mulai mendambakan Chromebook Samsung yang selalu berseliwran di layar smartphoneku. Lalu sampai beberapa minggu yang lalu Ketika Chrome Flex OS meluncur, aku mulai menimbang-nimbang. Sistem operasi ini ternyata bisa dijalankan secara berdampingan dengan Windws ataupun Machintosh. Lebih menarinya bisa dijalankan dari USB Stick. Mungkin Laptop dengan processor yang lebih lamapun bukan halangn bagi Chrome Flex untuk beroperasi. Lalu dengan bantuan ACER kangkangku saya download Chrome Flex OS lalu menyimpannya di Flaskdisk. Sebagai percobaan awal saya coba di si kangkang. Setelah diboot, Chrome Flex OS berjalan mulus. Untuk tahap ini rencana untuk meminimalisir sotware yang tidak berguna di Laptopku bisa segera dilaksanakan. Saya perlu lihat apakah saya bisa bertahan tanpa Microsoft Office dan aplikasi-aplikasi keren dan berat lainnya yang tidak bisa kubayar biaya langganannya lagi. Kalau ada yang gratis kenapa harus bayar? Ternyata benar dugaanku. Yang saya butuhkan adalah sebuah aplikasi sederhana untuk mengetik. Sebuah blog ternyata cukup. Google Doc dan Google Keep membuatnya lebih dari cukup. Cuma perlu sedikit data internet untuk menjalankannya. Sedikit hotspot sharing dari Smartphone tampaknya cukup. Begini caranya, booting Chrome Flex OS dari Flashdisk, setelah terbuka hubungkan ke internet dari hotspot smartphone. Cari aplikasi Google Doc atau Google Keep. Setelah terbuka, mulailah ketik sebaris lalu matikan internet. Jangan refresh browsernya, ketik terus sampai selesai. Setelah cukup, sambungkan lagi internet. Biarkan sebentar sampai ketikan anda diupload dan di save. Nah, itu Cuma salah satu cara hemat untuk menggunakan Chrome Flex OS. Kan sudah kubilang, saya sedang dalam survive mode, jadi akan kulakukan segala macam cara untuk menekan semua lini pengeluaran sehemat mungkin. Kalau kalian sedang tidak dalam mode hemat, silahkan terus terhubung dengan internet. Dijamin, kencang prosesnya. Bahkan untuk nonton film di Disney Hotstar lancar mantap. Saya belum mencoba Netflix. Survive mode, mahal amat Kembali ke DELL Inpiron. Seingatku laptop itu masih nyala Cuma windowsnya udah ga bisa jalan. Setiap kali tombol power ditekan yang muncul cuma layar hitam dengan dua pilihan di sudut kanan bawah layar, F2 untuk setup dan F12 untuk boot. Saya pikir jika Chrome Flex OS bisa berjalan di laptop ini maka saya tidak perlu beli Chromebook Samsung impianku. Bukankah Sistem operasinya terletak di Flasdisk? Yang saya butuhkan Cuma menekan F2 atau F12. Ternyata bukan Cuma itu. Saya masih perlu charger untuk laptop ini, sudah hilang entah di mana. Di toko computer saya meminta penjaga toko untuk mencoba dulu chargernya. Laptopnya menyala dengan dua pilihan di sudut kanan bawah. Kubilang pada yang jaga kalau saya coba boot Chrome Flex dari flasdisk. Tidak berhasil, saya mulai kecewa. Yang jaga ambil alih. Akhirnya, Logo Chrome dengan tulisan Chrome muncul di layar. Senang aku bukan kepalang. Yang jaga membolehkanku menghubungkan ke wifi mereka. Saya memilih mode guest untuk mengaktifkan browser, alih alih log in ke akun googleku. Saya tahut jangan sampai situs dewasa yang saya kunjungi di smartphoneku muncul di sana. Dengan hati gembira aku pulang Bersama charger baru di tas. Terbayang olehku betapa beruntungnya aku telah menghemat sangat banyak. Chargernya seharga 200 ribu. Kutahu itu harga agak mahal jika dibandingkan Tokopedia, tapi mengingat rasa senangku saat itu, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Di rumah saya langsung beraksi. Di situ aku tahu, ternyata battery laptopku sudah tidak bisa menyimpan arus. Terputus dari colokan listrik langsung membuatnya mati. Dari marketplace harga battery baru hamper mendekati 200 ribu. Layarnya perlu diganti karena ada garis vertical di sisi kiri layar tapi saya tidak perlu menggantinya sekarang. Yang kutahu saat ini saya tak perlu mengeluarkan banyak dana untuk laptop baru, bahkan untuk Cjromebook yng cukup murah saat ini. Saya punya pilihan yang jauh lebih murah.

Comments

Popular posts from this blog

UANG LINTING DI MADRASAH

MANUSIA TAMAN LUMINTANG